[Diari Jonru #17] Kasus LHI Mendorong Saya “Kembali ke Jalan yang Benar”


jonru_indonesia_tanpajil

Setelah sibuk di Dapur Buku dan tidak lagi mengelola SMO, tiba-tiba saya merasa TIDAK PERLU LAGI membangun personal branding sebagai guru menulis. Saya merasa tidak perlu lagi secara rutin menulis dan berbagi di internet mengenai kiat-kiat dan motovasi menulis.

Saat itu saya mulai menyadari bahwa aktivitas saya dalam berbagi ilmu di era SMO ternyata tidak benar-benar tulus, melainkan “ada maunya”, yakni karena ingin membangun personal branding.

Sejak mengelola Dapur Buku, saya tidak peduli lagi pada personal branding tersebut. Saya mulai menulis lebih cair, lebih akrab dengan para follower dan teman-teman di dunia maya. Saya mulai menghilangkan kesan bahwa saya seorang tokoh. Gaya penulisan saya yang dulunya jaim, meniru para motivator, kini mulai kembali seperti dulu, ketika saya masih aktif berdiskusi di Ekilat.com dan Ajangakita.com.

Intinya, saya kembali seperti identitas asli saya, yang sebenarnya sudah terbangun saat saya rajin berdiskusi dan berdebat di sejumlah forum diskusi online. Hanya karena ingin membangun personal branding di era SMO, saya tiba-tiba berubah menjadi seorang Jonru yang berbeda.

Saat itu, saya juga mulai aktif menulis di media sosial yang isinya adalah menentang “islam liberal”. Walau belum gabung dengan Indonesia Tanpa JIL, namun saya aktif mendukung gerakan mereka, bahkan menulis sebuah buku berjudul “Sekuler Loe Gue End”.

Dan munculnya kasus LHI merupakan tonggak bersejarah bagi perubahan gaya dan tema pembicaraan saya di dunia maya. Begitu banyak kejanggalan, keanehan dan rekayasa yang saya saksikan pada kasus ini. Maka saya tergelitik untuk ikut bersuara, menyampaikan kebenaran, mencoba memberikan kesadaran kepada teman-teman yang masih tertipu oleh berita-berita media yang menyesatkan.

Di luar dugaan, follower saya di Twiter langsung meningkat sangat pesat ketika saya rajin bicara politik, khususnya kasus LHI. Padahal sebelumnya, perkembangan follower saya masih biasa-biasa saja. Adapun di Fan Page Jonru (yang didirikan sejak tahun 2009), saat itu saya belum tergoda untuk bicara politik di sana. Untuk Facebook, obrolan seputar politik saya fokuskan di akun personal.

faktakatanyalhi

Inilah gambar tentang LHI yang pernah saya buat secara SPONTAN, dan langsung saya posting di Twitter. Dalam waktu singkat, ratusan orang meretweetnya, termasuk para petinggi PKS seperti pak Anies Matta dan Fahri Hamzah. Bahkan gambar ini kemudian dimuat di berbagai media online.

Ketika itu saya sempat berpikir, “Apakah membludaknya jumlah follower ini berpengaruh positif terhadap bisnis saya di Dapur Buku?” Hm…, sepertinya tidak. Sebab mereka umumnya ingin mendengarkan saya bicara politik, bukan karena ingin menerbitkan buku.

Tapi saya yang orangnya memang cuek, serba spontan dan suka berbuat semau-maunya, saat itu sama sekali tidak peduli. Yang saya pedulikan hanya satu: Ingin ikut bersuara membela kebenaran. Itu saja.

* * *

Selain kasus LHI, saat itu nama Jokowi pun mulai muncul ke permukaan. Saya termasuk orang yang rajin membicarakan beliau, khususnya sejak dia mencalonkan diri sebagai gubernur DKI.

Dan ketika Pemilu Legislatif di awal tahun 2014, saya pun ikut gencar mempromosikan PKS. Bahkan sejak kasus LHI muncul, saya yang awalnya masih malu-malu menunjukkan identitas politik saya, pun mulai berani “unjuk gigi” memperlihatkan secara terang-terangan kepada publik bahwa, “Saya ini kader PKS.”

Saya beranggapan bahwa situasi dan kondisi saat itu mengharuskan saya untuk berdakwah secara terang-terangan, tidak lagi seperti dahulu yang “sembunyi-sembunyi” alias berlagak netral padahal tidak. Saya percaya bahwa ada berbagai macam strategi dalam dakwah. Ada kalanya kita pakai cara diam-diam, namun ada saatnya pula bersuara lantang secara terbuka.

Ya, kasus LHI telah mendorong saya “kembali ke jalan yang benar”, kembali menjadi Jonru yang blak-blakan, spontan, kritis, dan berani dalam menyuarakan hal-hal yang saya anggap benar.

Saya meninggalkan identitas Jonru sebagai seorang tokoh, motivator, sosok manusia yang rajin berbagi kiat dan motivasi menulis. Saya yang orangnya memang suka semau-maunya, sama sekali tidak peduli apakah “kelakuan” tersebut  berpengaruh buruk terhadap bisnis saya di Dapur Buku.

Dan memang terbukti, AWALNYA hal tersebut memang berpengaruh cukup buruk. Orang-orang yang dulu mengagumi saya, tiba-tiba menjauhkan diri. Banyak di antara mereka yang berkata, “Kenapa Jonru tiba-tiba berubah? Saya rindu sosok Jonru yang dulu, yang penuh inspirasi, yang rajin menulis kiat-kiat menulis. Kembalilah ke jalan yang benar, Jonru!”

Terus terang, saya sama sekali tidak peduli pada komentar-komentar seperti itu. Sebab saya yang menjalani hidup saya sendiri. Saya yang paling tahu mengenai diri sendiri ketimbang orang lain.

Justru, saya merasa bahwa apa yang saya lakukan saat ini adalah diri saya yang sebenarnya. Justru saat ini saya merasa jauh lebih bahagia (walau dari segi keuangan masih begitu-begitu saja). Jonru yang dulu Anda kenal bukanlah Jonru yang asli.

Memang, perubahan “kelakuan” saya tersebut AWALNYA berpengaruh buruk terhadap bisnis dan kondisi keuangan keluarga saya. Namun di bagian berikutnya, teman-teman akan melihat sebuah fakta yang sungguh ajaib!

Bersambung >>

Iklan

2 responses to “[Diari Jonru #17] Kasus LHI Mendorong Saya “Kembali ke Jalan yang Benar”

  1. Ping-balik: Inilah Diari Jonru Selengkapnya! | Jonru Ginting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s