[Diari Jonru #18] Terlalu Eksis di Dunia Maya, Urusan Cari Rezeki Terbengkalai


jonru_online

Ini adalah foto ketika sosok saya diliput dan dimuat oleh semua koran di jaringan Jawa Pos Group se-Indonesia.

Jika Anda baru mengenal saya sejak tahun 2004 atau 2007, mungkin berkomentar, “Saya kehilangan Jonru yang dulu, Jonru yang rajin berbagi kiat menulis, Jonru yang tulisan-tulisannya penuh inspirasi.”

Jika Anda baru mengenal saya sejak Kampanye Pilpres 2014, mungkin menduga saya dibayar oleh Prabowo atau PKS atau KMP. Mungkin pula menuduh saya cari popularitas dengan cara menjelek-jelekkan Jokowi.

Namun bagi Anda yang sudah mengenal saya sejak dulu aktif berdiskusi di eKilat.com dan Ajangakita.com, kemungkinan besar akan berkata, “Jonru telah kembali seperti yang dulu!” Saya yakin, Anda sama sekali tidak heran dengan kiprah dan aktivitas saya saat ini yang rajin mengkritik Jokowi.

Sebab sejak dulu saya memang aslinya seperti ini. Jonru yang asli adalah seorang manusia yang krtis, bicara blak-blakan, spontan, dan sering penuh keberanian menentang hal-hal yang tidak dia sukai, walau banyak resiko yang harus ditanggung. Dan dia tak peduli terhadap hal tersebut.

Sekadar info saja:
Di Forum Lingkar Pena saya pernah konflik dengan Asma Nadia. Selama bertahun-tahun hubungan kami tidak baik. Namun alhamdulillah, sekarang kami sudah akrab kembali.

Di komunitas Tangan Di Atas (TDA) saya pernah konflik dengan pengurus pusat, karena saya menentang kebijakan mereka. Gara-gara itu, banyak warga TDA yang kehilangan simpati terhadap saya.

Sewaktu aktif di pers kampus, saya berkali-kali menentang kebijakan pengurus yang menurut saya memperlakukan organisasi internal kampus seperti milik organisasi ekstra kampus tertentu. Bahkan suatu hari, pernah para pengurus mengadakan rapat di markas organisasi ekstra tersebut. Ini menurut saya sangat aneh, sangat tidak wajar, dan saya menentangnya dengan keras. Dan karena saya merasa diperlakukan secara tidak adil hanya karena saya bukan anggota mereka, maka tahun 1995 saya mengundurkan diri dari pers kampus tersebut. Padahal ketika itu saya sudah hampir terpilih sebagai pemimpin redaksi (tapi hanya jadi pemimpin boneka, karena pada saat itu saya adalah satu-satunya calon yang terrsedia. Mereka sudah berencana menunjuk orang lain sebagai pemimpin umum, sekaligus sebagai pengendali saya).

Ya, Jonru yang asli memang seperti itu.

Namun sejak bangkit lagi dari “mati suri” selama delapan tahun, saya lebih tertarik menulis dan berbagi mengenai kiat-kiat menulis dan dunia maya. Bahkan sejak tahun 2007 ketika mendirikan SMO, saya merasa perlu membangun personal branding sebagai guru menulis. Maka saya kemudian tampil seperti motivator, seorang tokoh yang didengarkan ucapannya oleh banyak orang.

Di bagian sebelumnya saya sudah bercerita, bahwa sejak mendirikan Dapur Buku dan meninggalkan SMO, saya merasa tak perlu lagi membangun personal branding seperti di atas. Munculnya kasus LHI pun membuat saya mulai berani bicara politik (lagi), dan terang-terangan menunjukkan identitas asli sebagai kader PKS. Saya juga rajin mengkritik pemikiran Islam liberal dan teman-temannya.

Intinya, sejak tahun 2012 saya secara pelan-pelan namun pasti, telah kembali menjadi jatidiri Jonru yang asli.

* * *

jonru_dapurbuku1

Di awal tahun 2014, saya mengalami semacam kegalauan yang luar biasa. Sejak tahun 2007 saya sudah menerapkan kiat-kiat bisnis, kiat marketing dan sebagainya dari Tung Desem Waringin, Anne Ahira. Nukman Luthfie, juga dari para pengusaha sukses TDA, dan lain-lain. Namun tak ada satu pun yang berhasil mengantarkan saya ke gerbang sukses. Hidup saya masih begitu-begitu saja.

Saya sudah menjadi entrepreneur sejak tahun 2007. Namun hingga TUJUH TAHUN kemudian, belum ada perkembangan berarti pada bisnis dan hidup saya. Bisnis di Dapur Buku memang lumayan, namun hasilnya masih begitu-begitu saja, masih kategori uang receh. Bahkan sering terjadi defisit karena saya belum terlalu piawai dalam mengelola keuangan.

Padahal teman-teman pebisnis lainnya, umumnya mereka sudah sukses hanya dalam hitungan dua tahun bahkan kurang. Mereka yang dulunya hanya punya motor, kini sudah punya mobil. Mereka yang dulunya masih ngontrak, kini sudah bisa beli rumah sendiri. Sementara hidup saya masih begitu-begitu saja. Belum ada perkembangan yang berarti.

Saya merasa jauh tertinggal, dan itu menyebabkan diri ini minder, stress, lalu depresi berat. Saya bahkan memutuskan untuk menjauhkan diri dari semua komunitas bisnis yang saya ikuti. Saya ingin “bertapa”, merenung, mencoba mencari jalan keluar dari masalah besar yang sedang menghampiri diri.

Saya sempat berpikir bahwa mungkin saya tidak cocok jadi pebisnis. Tapi jika tidak cocok, lantas bagaimana saya harus mencari rezeki? Saya tak mungkin jadi karyawan lagi. Mau mengandalkan rezeki dari penjualan buku-buku yang saya tulis pun, hasilnya belum seberapa. Pendapatan dari workshop menulis pun masih belum menentu. Mau jadi pekerja freelance pun, pasti tidak cocok karena saya paling malas bekerja untuk orang lain.

Jadi, apa formula terbaik bagi saya untuk mencari rezeki? Kok semua jalan sepertinya buntu? Apa lagi yang harus saya lakukan? Saya belum punya gambaran apapun, dan itu membuat saya makin stress bin depresi.

* * *

Namun walau depresi, saya tetap rajin menulis di Facebook dan Twitter, mengkritik hal-hal yang menurut saya perlu dikritik. Saya orangnya memang sangat betah berlama-lama di depan laptop. Kalau sudah berselancar di Facebook dan Twitter, saya bisa lupa waktu, dan banyak pekerjaan yang terbengkalai.

Kebiasaan seperti ini sebenarnya sudah dimulai sejak saya masih bekerja di Uninet tahun 2000 lalu. Saat itu, pekerjaan saya hanya mengcopy paste berita dari media lain, dan waktu luang pun banyak sekali. Saya jadi bosan dan stress. Maka saya mencari “pelampiasan” dengan cara berselancar dan melakukan banyak kegiatan di dunia maya.

Kondisi tersebut menyebabkan saya selama bertahun-tahun telah terbiasa online berlama-lama di dunia maya, dan itu membuat saya sangat betah. Sejak tahun 2000 hingga hari ini, kebiasaan tersebut masih terus berlanjut, sulit untuk dihentikan, karena sepertinya sudah menjadi karakter diri saya, hehehe… 🙂

Pokoknya kalau saya sudah duduk di depan laptop dan online di internet, jangan heran jika saya sangat betah dan lupa waktu.

Ketika sedang ada uang, tentu kebiasaan seperti ini tidak menimbulkan masalah. Namun ketika dompet mulai menipis, barulah saya kelabakan, berusaha berbagai macam cara agar keuangan kembali stabil.

Seperti itulah diri saya yang sebenarnya. Sebuah kebiasaan aneh, yang sempat membuat seorang kakak saya pernah menegur dengan keras, “Jon, kau janganlah terlalu sering bermain-main di Facebook. Ingat, kau itu seorang Ayah. Anak kau sudah tiga. Mereka harus diberi makan. Nanti jika mereka besar, kau harus membiayai sekolahnya yang tentu tidak murah. Pakai apa kau membayarnya jika seharian kau hanya bermain-main di Facebook?”

Saya tertegun, merasa bahwa ucapan kakak tersebut sangatlah benar. Namun godaan untuk berlama-lama online di dunia maya ternyata sangat sulit untuk dihindari. Maka saya pun tetap setia dengan kebiasaan tersebut; menghabiskan sebagian besar waktu di Facebook dan Twitter, sementara urusan mencari uang sering terbengkalai.

Saat itu saya berkata di dalam hati, “Alangkah indahnya jika saya bisa mendapatkan PENGHASILAN UTAMA dari hal-hal yang paling saya sukai, paling sering saya lakukan sepanjang hari, yakni online di Facebook dan Twitter. Sekarang itu memang belum terwujud*. Tapi saya yakin, suatu saat nanti pasti bisa. Insya Allah.”

NB: *Memang beberapa kali saya sempat mendapat penghasilan dari aktivitas  di media sosial, namun baru berupa penghasilan tambahan, yang jumlahnya belum cukup untuk kehidupan sehari-hari.

Bersambung >>

Iklan

8 responses to “[Diari Jonru #18] Terlalu Eksis di Dunia Maya, Urusan Cari Rezeki Terbengkalai

  1. Gimana kalau menjual produk sendiri bang Jonru?
    bikin semacam toko online, kan udah ada dapurbuku, tinggal ditingkatkan lagi,inovasi,dan sebagainya . . .
    bisa juga merambah ke bidang lain

    Suka

  2. Kalau blog ya pakai wp gak bisa didaftarkan ke google adsense, mungkin bisa migrate ke yang lain biar bsa diterima google…Insha Allah lumayan, karena lihat hitnya sudah luar biasa….bisa dimanfaatkan…

    Suka

  3. real banget pak…..salam kenal, saya juga mungkin tipikal yg sama dengan bapak,

    Suka

  4. Sepertinya banyak “Makhluk” yang bernasib seperti anda…. contohnya saya 🙂

    Suka

  5. Betul. kadang perlu prioritas membagi waktu.

    Suka

  6. Mungkin perlu belajar dari pendiri kaskus bang…yg awalnya cuma forum sekarang jadi tempat bisnis online yg penghasilannya sdh milyaran dalam sebulan.

    Suka

  7. Ping-balik: Inilah Diari Jonru Selengkapnya! | Jonru Ginting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s