Inilah Akibatnya Jika Seseorang Dididik dengan Cara yang Salah


ketika_anak_salah_didik

Foto bareng Fay Iskandar, seorang psikolog dan trainer.

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran Anda ketika mendengar istilah SALAH DIDIK? Hm… kemungkinan besar Anda akan berpikir tentang anak yang terlalu manja, melawan orang tua, hamil di luar nikah, terlibat narkoba, bahkan menjadi anak durhaka. Pokoknya yang negatif-negatif, buruk dan menyeramkan.

Sebenarnya, tidak selamanya SALAH DIDIK memiliki makna seperti itu. Dalam konsep STIFIn, salah didik adalah ketika seseorang dididik dan berada di lingkungan yang tidak sesuai dengan Mesin Kecerdasan (MK)nya.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah contoh terdekat, yakni diri saya sendiri.

Salah satu karakter orang Insting adalah suka cari aman. Senang dengan kenyamanan dan kemapanan. Karena itulah, orang Insting cocok jadi karyawan dengan gaji tetap, dan jaminan masa depan berupa asuransi atau uang pensiun. Orang Insting umumnya tidak suka menjadi pengusaha yang hidupnya serba tak pasti dan penuh resiko.

Saya orang insting, namun anehnya sangat anti jadi karyawan. Tujuh tahun bekerja sebagai orang kantoran dengan gaji besar dan fasilitas serba wah, saya justru stres, depresi dan sering sakit-sakitan. Saya orangnya paling malas mengerjakan proyek orang lain, walau dibayar paling mahal sekalipun. Sebaliknya jika mengerjakan proyek sendiri, saya akan sangat senang mengerjakannya, walau tidak dibayar.

Kenapa bisa begitu? Kenapa saya menjadi orang yang tidak sesuai dengan fitrah sebagai orang Insting?

“Karena Pak Jonru salah didik,” ujar Pak Farid Poniman (Penemu #STIFIn), saat kami bertemu Jumat kemarin, 8 Mei 2015.

Saat mendengar jawaban beliau itu, terus terang ada sesuatu yang memberontak di hati saya. Tidak rela disebut salah didik.

“Apa benar saya salah didik? Kayaknya enggak, deh! Di mana salah didiknya? Saya kok tidak merasa seperti itu!”

Sebelum dilanjut, perlu saya tegaskan lagi bahwa konsep “salah didik” ala STIFIn berbeda dengan yang kita kenal secara umum. SALAH DIDIK versi STIFIn adalah ketika seseorang dididik dengan cara yang tidak sesuai dengan MK-nya, dan berada di lingkungan yang tidak sesuai MK-nya. Di atas sudah saya jelaskan, bukan?

Jadi, ketika Pak Farid menyebut saya salah didik, konteksnya seperti itu. Saya orang Insting yang seharusnya dididik menjadi pegawai atau karyawan, namun justru dididik dengan cara yang berbeda.

Di mana bedanya? Di mana salahnya?

Awalnya saya belum tahu jawabannya. Saya bahkan bingung dan tak menemukan jawaban apapun. Namun malam harinya, saat merenung dan mengingat-ingat lagi kenangan masa lalu, barulah saya menemukan jawaban yang memuaskan.

Ternyata, kedua orang tua saya bersikap KONTRADIKTIF dalam mendidik anak-anak mereka.

Ayah saya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan profesinya guru. Ibu saya pun awalnya PNS dan guru juga, namun belakangan memutuskan full sebagai ibu rumah tangga.

Sebagai PNS dan orang tua yang masih berpola pikir “jadul”, kedua orang tua saya sangat menginginkan anak-anak mereka jadi PNS juga. Saya pun dulu sering dirayu agar mau mendaftar jadi PNS. Bahkan, sejak kecil hingga tamat SMA saya tinggal di lingkungan yang masyarakatnya menganggap bahwa PNS merupakan profesi paling keren dan bergengsi. Mereka rela menyogok ratusan juta agar bisa diterima jadi PNS. Sampai segitunya!

ketika_anak_salah_didik1

Hingga di sini, sebenarnya tak ada yang salah, bukan? Ya kalau soal nyogoknya sih salah, hehehe… Yang saya maksud dengan tidak salah adalah: Lingkungan dan keinginan orang tua saya sebenarnya sangat sejalan dengan fitrah saya sebagai orang Insting.

Namun ternyata, di sinilah sisi kontradiktif orang tua saya:

Di satu sisi mereka ingin anak-anaknya jadi pegawai. Tapi di sisi lain, mereka TANPA SADAR mendidik kami menjadi pengusaha. Akibatnya:

– Tiga kakak saya jadi PNS, tapi mereka tetap rajin berdagang.
– Dua kakak saya jadi pebisnis, dan suami mereka pun pebisnis.
– Saya pun lebih senang berbisnis.

Ketika saya masih balita, Ibu menjadi pedagang dan berjualan di pasar, dan saya selalu menemaninya. Ketika masih SD, saya pun menemani Ibu bertani di sebuah desa (ladang milik sendiri), dan hasil tanaman tersebut kami jual di pasar tradisional. Saat itu saya merasakan hidup sebagai pebisnis di bidang pertanian. Ketika SMP hingga SMA, saya ikut menjaga warung sembako di sebelah rumah.

Intinya, saya sejak kecil dididik menjadi pengusaha, walau sebenarnya itu dilakukan oleh Ibu tanpa sengaja.

Setelah mengingat itu semua, barulah saya percaya pada ucapan Pak Farid, bahwa memang benar saya salah didik. Itulah sebabnya, saya orang Insting yang seharusnya lebih cocok jadi pegawai, namun faktanya lebih suka jadi pengusaha.

Apakah pengalaman saya ini salah?

Ya, kalau dipandang dari kacamata dunia entrepreneur, justru keputusan saya menjadi pebisnis dianggap sangat benar dan sangat disukai. Namun dari sudut pandang STIFIn, itulah yang disebut salah didik. Maksudnya:

Andai dulu saya dididik dan berada di lingkungan yang menempa saya menjadi karyawan, mungkin saat ini hidup saya jauh lebih sukses seperti sekarang. Sebab seseorang akan bisa mencapai kesuksesan terbesarnya jika dia menjadi diri sendiri, sesuai dengan GENETIKANYA, sesuai dengan Mesin Kecerdasannya.

Saya BUKAN berkata bahwa menjadi pegawai lebih baik dibanding jadi pebisnis. SAMA SEKALI BUKAN. Maksud saya adalah: Bagi orang Insting, fitrah terbaiknya adalah menjadi pegawai atau karyawan. Sedangkan bagi orang Sensing, mereka akan lebih sukses sebagai pedagang, karena itu sesuai dengan genetikanya. Seperti itu kira-kira gambarannya.

Analisis ini mendapat pembenaran, terutama jika dilihat kondisi saya saat ini. Seperti yang pernah saya tulis pada artikel lainnya, saya sudah jadi pebisnis sejak tahun 2007, namun hingga saat ini perkembangannya begitu-begitu saja. Saya bahkan kurang semangat dalam mengelolanya.

“Pak Jonru sebenarnya tidak cocok mengelola perusahaan. Ibarat restoran, Pak Jonru cocoknya jadi koki saja, bukan jadi pengelola restorannya.”

Pendapat seperti ini telah dilontarkan oleh dua orang kepada saya, yakni Pak Primo (seorang business coach) dan Pak Farid Poniman (penemu STIFIn). Dan saya SANGAT SETUJU. Karena saya memang merasa lebih cocok dan nyaman jika DIKELOLA, bukan mengelola.

tulah sebabnya, salah satu upaya terbesar saya saat ini adalah mencari orang yang bisa menggantikan posisi saya sebagi direktur di perusahaan saya. Semoga bisa ketemu orangnya dalam waktu dekat. Aamiin… 🙂

Mungkin itu pula salah satu sebab, kenapa saya sangat bersemangat ketika menjadi Promotor STIFIn. Walau bukan menjadi pegawai tetap, tapi secara umum saya kini bekerja untuk perusahaan milik orang lain. Sebab tugas Promotor sebenarnya hampir sama dengan staf marketing freelance. Dan alhamdulillah, saya sangat menikmati pekerjaan seperti ini. Saya merasa sangat bahagia dan penuh semangat menjalaninya.

NB: Tulisan ini bukan masalah benar atau salah dari segi moral. Tulisan ini lebih berbicara tenang KONDISI IDEAL bagi hidup seseorang.

Bagi saya yang sudah terlanjur “salah didik” sehingga merasa lebih enjoy menjadi pebisnis ketimbang pegawai, BUKAN BERARTI saya harus banting stir menjadi PNS atau karyawan swasta. Saya Insya Allah tetap akan bertahan sebagai pebisnis, karena itulah dunia yang saya sukai.

Namun sesuai dengan fitrah orang Insting pada umumnya, saya akhirnya menemukan JALAN TENGAH yang membahagiakan, yakni tetap berbisnis, namun di perusahaan milik orang lain. Atau jika itu perusahaan milik sendiri, saya harus mencari orang lain untuk mengelolanya.

Alhamdulillah, selalu ada jalan, bukan? Allah memang Maha Adil.

Jakarta, 9 Mei 2015

NB: Jika ingin tahu bagaimana STIFIn bisa menemukan potensi terbesar dalam hidup Anda, silahkan hubungi NOMOR ADMIN kami: 085945814496 (WhatsApp Only)

Jakarta, 5 Mei 2015
Jonru
Follow me:
– Twitter: @jonru
– Instagram: @jonruginting

Iklan

13 responses to “Inilah Akibatnya Jika Seseorang Dididik dengan Cara yang Salah

  1. Saya selalu kawatir dengan lingkungan perkembangan anak saya. Tapi saya hanya bisa berharap semoga lingkungan t4 ia bertumbuh bertiup ke arah positif

    Suka

  2. Hahahaha, tak ngguyu wae lah…

    Suka

  3. bagus pak jon. aku suka

    Suka

  4. Ya memang tidak sepenuhnya benar sih kalau orang yang tidak jelas jalan hidupnya akibat dia salah didik.

    Suka

  5. Didikan yang baik adalah yang dicontohkan oleh orang2 yang sudah mendapatkan hasil dari anak didik yang baik..

    Suka

  6. terkadang kita tidak mengetahui jika kita telah telah salah didik

    Suka

  7. Istimewa ini isi blognya… 🙂
    Semoga sukses dunia akhirat Pak…

    Suka

  8. duh mungkin saya orang yang sama seperti abang jonru nihh hadueuhh

    Suka

  9. Anda selalu dalam posisi pro n kontra. Terhadap yang pro perlu istighfar, dan terhadap yang kontra anggap sebagai fedback atau umpan balik. Dan saya sendiri termasuk yang mayoritas pro !!

    Suka

  10. Nice artikel Pak Jonru.. Terima kasih 🙂

    Suka

  11. Hikzz.. Kini baru kusadari lae jonru, ternyata selama ini tlah banyak rakyat yang salah didik dan tercekoki tukang tipu blusukan ditelevisi, spiral rantai kebodohan pun merajalela. #Miris 😀

    Suka

  12. Tulisannya keren bang jonru..seharusnya Cara mendidik yang benar harus benar2 dipelajari dan diamalkan
    Semoga sukses terus bang..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s