Sebuah Tuduhan Konyol bernama SANTRI GOOGLE


santri google

Mari awali tulisan ini dengan sebuah dialog yang saya sadur dari kisah nyata:

A: “Apakah kamu tahu bahwa tidak semua ghibah itu dosa? Ada juga yang halal, lho.”
B: “Masa, sih? Apa dalilnya?”
A: “Coba cari aja di Google.”
B: “GOOGLE? Jadi selama ini kamu belajar hanya dari Google? Ternyata kamu Santri Google, ya? Hehehe, belajar kok cuma dari Google! Banyak informasi enggak bener dan enggak jelas tuh, di sana. Kalau belajar yang benar tuh, langsung sama ulama yang berkompeten, yang ilmu agamanya jelas dan benar! Belajar kok cuma dari Google! Parah banget, lu!”

* * *

Selama saya aktif di dunia maya, pembicaraan seperti di atas sangat sering terjadi. Bahkan saya termasuk orang yang sering dituduh sebagai Santri Google. Belajar agama hanya dari Google.

Menurut saya, tuduhan seperti itu sangatlah konyol. Sangat menggelikan. Sebab itu tuduhan yang sangat salah kaprah. Kenapa? Berikut saya jelaskan:

SATU:

“Mencari di Google” itu konteksnya dalam rangka mencari informasi, BUKAN dalam konteks menimba ilmu.

Memang sih, mencari informasi juga bagian dari menimba ilmu. Tapi saya yakin Anda juga paham bahwa MENIMBA ILMU sangat luas cakupannya. MENCARI INFORMASI hanyalah secuil kecil aktivitas dari menimba ilmu.

Jadi jika A menyuruh B mencari informasi, lantas B mengartikannya sebagai menimba ilmu, tentu ada yang salah kaprah dan tidak nyambung, bukan?

DUA:

Pembicaraan di atas terjadi di DUNIA MAYA. Si A mungkin tinggal di Los Angeles, sedangkan si B di New Delhi. Tak mungkin di tengah obrolan itu, si A menyerahkan sebuah buku kepada si B, sebagai referensi mengenai dalil yang ditanyakan.

Karena obrolan di dunia maya, tentu mereka menginginkan kepraktisan. Sebab jika menyuruh si B membaca buku tertentu, pasti proses untuk mencari dan membacanya butuh waktu lama. Mungkin harus beli dulu di toko buku. Mungkin harus beli secara online, dan butuh tiga hari agar bukunya tiba di alamat si B.

Jika A menyuruh B untuk bertanya pada seorang ulama, tentu butuh waktu dan perjuangan yang tidak sebentar agar dia bisa bertemu dengan si ulama.

Beda halnya ketika A menyuruh B mencari di Google. Caranya sangat praktis, mudah, nyaman, dan hasilnya bisa didapatkan dalam SEKETIKA.

Dengan demikian, pembicaraan antara A dengan B pun bisa berlangsung dengan lancar. Coba kalau B harus beli buku dulu, harus janjian ketemu dulu dengan si ulama, maka bagaimana nasib obrolan mereka? Silahkan BAYANGKAN sendiri, ya 🙂

Intinya, suruhan untuk mencari di Google adalah untuk alasan kepraktisan saja. Jadi tak perlulah terlalu LEBAY mengartikannya sebagai menimba ilmu, lantas orang yang menyuruh tersebut dituduh Santri Google.

TIGA:

Google adalah mesin pencari. Jadi jika dianalogikan pada dunia offline, dia bukan ulama, bukan ustadz, bukan kiyai. Dia hanya semacam navigasi, tempat kita bertanya, “Di mana ya, saya bisa menemukan artikel yang berisi petuah-petuah terbaik dari ulama yang saya hormati?”

Lantas Google pun memberikan jawaban.

Hasil pencarian Google bisa macam-macam. Ada yang berkualitas tinggi, ada yang kacangan. Ada yang terpercaya, ada yang hoax, ada yang penipuan, ada yang hanya gurauan semata. Kita sebagai SI PENCARI tentu punya pikiran dan kecerdasan untuk memilah-milah, mana informasi yang pantas untuk kita percayai dan dijadikan bahan rujukan.

santri google

EMPAT:

Saat si B berkata, “Belajar tuh dari ulama, bukan dari Google!”, mungkin dia belum sadar bahwa banyak hasil pencarian di Google yang justru mengarah kepada artikel-artikel yang ditulis oleh ulama ternama dan terpercaya. Jadi jika A menyuruh dia belajar kepada ulama C misalnya, lantas B menemukan – lewat Google – artikel yang ditulis oleh ulama C, maka apa bedanya? Bukankah membaca artikel karya Ulama C merupakan bagian dari proses menimba ilmu kepada beliau?

Jika misalnya setelah membaca artikel tersebut, B belum puas, lantas berniat untuk bertemu dengan ulama C agar bisa bertemu langsung dengannya, tentu itu sangat mungkin dilakukan.

Intinya, menyuruh mencari di Google sama sekali BUKAN mengandung arti bahwa kita hanya perlu belajar lewat Google, tak perlu belajar di tempat lain.

LIMA:

Saat si B berkata, “Belajar kok cuma dari Google!” sebenarnya TANPA SADAR dia sedang berburuk sangka. Sebab dia membuat tuduhan yang belum tentu benar. Padahal bukankah berburuk sangka sangat dilarang dalam Islam?

Saat si A menyuruh B mencari di Google, apakah B tahu bahwa selama ini A rutin belajar pada ulama tertentu? Apakah B tahu bahwa A punya kelompok pengajian, dan dia justru menjadi ustadz di sana? Apa B tahu bahwa A ternyata sudah bergabung dengan tarbiyah dan seminggu sekali ikut pengajian bersama murobi-nya? Apakah B tahu bahwa si A ternyata rajin membaca buku-buku agama yang ditulis oleh para ulama ternama?

Si B pasti tidak tahu semua itu, karena dia tidak kenal secara pribadi dengan A. Selama ini mereka hanya ngobrol di dunia maya. Namun B dengan seenaknya menuduh A “hanya belajar agama dari Google”. Bukankah itu tuduhan yang berbau buruk sangka?

ENAM:

Hal paling konyol adalah:
Ketika ada orang yang meminta informasi tertentu pada si B, biasanya dia juga mencari di Google. Jadi si B ini sebenarnya tipe manusia “munafik”. Mengejek Google, padahal dia juga butuh, padahal dia juga sering terbantu oleh Google 😀

* * *

NB: Memang, yang paling ideal adalah ketika si A ditanya seperti di atas, dia langsung memberikan jawaban berupa dalil, penjelasan, dan sebagainya. Bukan menyuruh mencari di Google. Namun jika karena alasan-alasan tertentu dia menyuruh B mencari di Google, maka tentu sangat konyol jika si B langsung menuduh seperti itu.

santri google

Jadi jika Anda termasuk orang seperti si B, saran saya BERTAUBATLAH!

Semoga tulisan ini bermanfaat, dan alhamdulillah jika bisa mengubah pola pikir kita semua, termasuk saya.

Terima kasih, maaf bila ada yang tak berkenan, salam sukses selalu!

Jonru

Follow me:
Twitter: @jonru
Instagram: @jonruginting

Iklan

17 responses to “Sebuah Tuduhan Konyol bernama SANTRI GOOGLE

  1. Yup mas Jonru mereka memang mencari informasi di google namun permasalahannya informasi tersebut adalah tulisan ulama yang mengikuti para ulama yang “kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah” bersandarkan mutholaah (menelaah kitab) secara otodidak (shahafi) dengan akal pikiran mereka sendiri dan mereka selalu berpegang pada nash secara dzahir atau pemahamannya selalu dengan makna dzahir

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa kelak umat Islam jumlahnya banyak namun “bagaikan buih di atas lautan” , rapuh dan terombang-ambing karena keyakinan mereka mengikuti orang-orang yang memahami “Al Qur’an dan AS Sunnah” bersandarkan mutholaah (menelaah kitab) secara otodidak (shahafi) dengan akal pikiran mereka sendiri dan mereka selalu berpegang pada nash secara dzahir atau pemahamannya selalu dengan makna dzahir. Mereka meninggalkan para ulama yang istiqomah mengikuti Rasulullah dengan mengikuti Imam Mazhab yang empat atau para ulama tersebut telah diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla.

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,“Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

    Mereka membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan dan rapuh karena mereka membangun keyakinannya secara ilmiah (alasan logis) atau keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif sehingga mereka akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Oleh karenanya dapat kita temukan di antara mereka berselisih, sehingga mereka beradu argumen dan bersepakat bahwa yang “kalah” dalam adu argumen akan mengikuti keyakinan yang “menang” dalam adu argumen.

    Mereka memandang nash-nash Al-Quran dan As Sunnah bagaikan bukti-bukti atau premis-premis yang berdiri sendiri. Sehingga mereka mengkaitkan diantara premis-premis yang ada untuk mendapatkan pemahaman yang shahih menurut logika (masuk akal) mereka.

    Oleh karenanya mereka mungkin saja berpendapat bahwa pemahaman yang shahih menurut logika (masuk akal) mereka atas mengutip beberapa nash-nash Al-Qur’an dan As Sunnah (premis-premis) namun kenyataannya adalah pemahaman yang salah, misalnya karena mereka tidak memperhatikan asbabun nuzul atau tidak memperhatikan kaitan antara satu ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya, kaitannya dengan ayat pada surat yang lain dan kaitannya dengan hadits yang menjelaskan maupun dengan ilmu-ilmu yang lain yang harus dikuasai agar berhak untuk menggali hukum dari Al Qur’an dan As Sunnah seperti ilmu tata bahasa Arab atau ilmu alat dan lain lain sebagaimana yang telah disampaikan di atas.

    Al Ajurri rahimahullah dalam kitabnya Asy Syariah menceritakan dengan sanadnya bahwa suatu hari ketika Imam Malik bin Anas rahimahullah pulang dari masjid, ada seorang bernama Abul Juwairiyah (seorang yang disebutkan mempunyai pemikiran murji`ah) berkata kepadanya ‘Wahai Abu Abdillah (kun-yah / panggilan Imam Malik) dengarkan aku sebentar, aku ingin berbicara denganmu, membawakan hujjahku dan pendapatku’
    Imam Malik balik bertanya “Kalau kamu mengalahkanku dalam berdebat?”
    Dia menjawab ‘ Kalau aku menang, maka kau harus mengikutiku’
    Imam Malik kembali bertanya “Kalau ada orang lain datang kemudian mendebat kita dan menang?”
    Dia menjawab ‘Kita akan mengikutinya’
    Imam Malik kemudian berkata “Wahai hamba Allah, Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan satu agama, sedangkan aku melihatmu berpindah dari satu agama ke agama lain.

    Umar bin Abdul Azizi berkata: “Barangsiapa menjadikan agamanya tempat berdebat dia akan banyak berpindah.”

    Sejalan dengan hal itu, Rasulullah telah bersabda bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah diambilnya ilmu agama dari al ashaaghir yakni orang-orang yang mendalami ilmu agama secara otodidak (shahafi) menurut akal pikiran mereka sendiri.

    Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Qaasim dan Sa’iid bin Nashr, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Qaasim bin Ashbagh : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil At-Tirmidziy : Telah menceritakan kepada kami Nu’aim : Telah menceritakan kepada kami Ibnul-Mubaarak : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah, dari Bakr bin Sawaadah, dari Abu Umayyah Al-Jumahiy : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda hari kiamat ada tiga macam yang salah satunya adalah diambilnya ilmu dari Al-Ashaaghir (orang-orang kecil / ulama yang baru belajar)”.

    Nu’aim berkata : Dikatakan kepada Ibnul-Mubaarak : “Siapakah itu Al-Ashaaghir?”. Ia menjawab : “Orang yang berkata-kata menurut pikiran mereka semata. Adapun seorang yang kecil yang meriwayatkan hadits dari Al-Kabiir (orang yang tua / ulama senior / ulama sebelumnya), maka ia bukan termasuk golongan Ashaaghir itu”.

    Suka

  2. Walaupun para ulama panutan mereka pada awalnya berguru dengan ulama yang mempunyai sanad guru atau susunan guru tersambung kepada lisannya Rasulullah namun menjadi tidak berarti apa-apa jika pada akhirnya mereka lebih banyak mendalami ilmu agama di balik perpustakaan artinya sanad ilmu (sanad guru) terputus hanya sampai akal pikirannya semata.

    Janganlah mengambil pendapat atau ilmu agama dari ulama dlaif yakni orang-orang yang kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah bersandarkan mutholaah (menelaah kitab) secara otodidak (shahafi) dengan akal pikiran mereka sendiri sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2015/05/31/ulama-dlaif/

    Syaikh Nashir al-Asad menyampaikan bahwa para ulama menilai sebagai ulama dlaif (lemah) bagi orang-orang yang hanya mengambil ilmu melalui kitab saja tanpa memperoleh dan memperlihatkannya kepada ulama

    Syaikh Nashir al-Asad ketika diajukan pertanyaan, “Apakah orang yang otodidak dari kitab-kitab hadits layak disebut ahli hadits ?”, menjawabnya bahwa “Orang yang hanya mengambil ilmu melalui kitab saja tanpa memperlihatkannya kepada ulama dan tanpa berjumpa dalam majlis-majlis ulama, maka ia telah mengarah pada distorsi. Para ulama tidak menganggapnya sebagai ilmu, mereka menyebutnya shahafi atau otodidak, bukan orang alim. Para ulama menilai orang semacam ini sebagai orang yang dlaif (lemah). Ia disebut shahafi yang diambil dari kalimat tashhif, yang artinya adalah seseorang mempelajari ilmu dari kitab tetapi ia tidak mendapatkan dan mendengar langsung dari para ulama, maka ia melenceng dari kebenaran. Dengan demikian, Sanad dalam riwayat menurut pandangan kami adalah untuk menghindari kesalahan semacam ini” (Mashadir asy-Syi’ri al-Jahili 10)

    Boleh kita menggunakan segala macam wasilah atau alat atau sarana dalam menuntut ilmu agama seperti buku, internet, audio, video dan lain lain namun kita harus mempunyai guru untuk tempat kita bertanya karena syaitan tidak berdiam diri melihat orang memahami Al Qur’an dan Hadits

    “Man la syaikha lahu fasyaikhuhu syaithan” yang artinya “barang siapa yang tidak mempunyai guru maka gurunya adalah syaitan

    Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203

    Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya sendiri menurut akal pikirannya sendiri.

    Jadi pengikut syaitan atau wali syaitan dapat diakibatkan karena salah memahami Al Qur’an dan As Sunnah seperti orang-orang yang mengaku muslim namun pengikut radikalisme dan terorisme.

    Kekerasan yang radikal adalah kekerasan yang memperturutkan hawa nafsu atau kekerasan berdasarkan kesalapahamannya dalam memahami Al Qur’an dan Hadits

    Kekerasan yang tidak radikal adalah kekerasan yang dilakukan berdasarkan perintah ulil amri sebenarnya yakni para fuqaha

    Mantan mufti agung Mesir Syeikh Ali Jum’ah telah mengajukan untuk menyatukan lembaga fatwa di seluruh dunia untuk membentuk majelis permusyawaratan ulama tingkat dunia yang terdiri dari para fuqaha.

    Piihak yang dapat mengeluarkan fatwa sebuah peperangan adalah jihad (mujahidin) atau jahat (teroris) sehingga dapat diketahui apakah mati syaihd atau mati sangit adalah “ulil amri di antara kamu” (QS An Nisaa [4]:59) atau ulil amri setempat yakni para fuqaha setempat karena ulama di luar negara (di luar jama’ah minal muslimin) tidak terbebas dari fitnah sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2015/06/02/radikal-al-qaeda-dan-isis/

    Suka

  3. Tanda atau ciri seorang ulama tidak terputus sanad guru (sanad ilmu) adalah pemahaman atau pendapat ulama tersebut tidak menyelisihi pendapat gurunya dan guru-gurunya terdahulu hingga tersambung kepada Rasulullah serta ditunjukkan atau dibuktikan dengan berakhlak baik sebagaimana yang telah disampaikan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2015/10/20/tanda-sanad-ilmu/

    Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan“

    Suka

  4. Salah dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah seperti ajaran (pemahaman) Muhammad bin Abdul Wahhab yang mengangkat kembali pemahaman Ibnu Taimiyyah sebelum bertaubat sehingga mereka memunculkan bentuk kesyrikan yang baru sebagaimana yang telah disampaikan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2015/10/08/bentuk-kesyirikan-baru/

    Timbul permasalahan besar karena mereka mengatakan bahwa pemahaman Ibnu Taimiyyah sebelum bertaubat adalah manhaj (mazhab) salaf sehingga akan menyesatkan orang banyak dan memfitnah Salafush Sholeh.

    Sedangkan pemahaman Ibnu Taimiyyah sebelum bertaubat menurut keputusan Qodhi Empat Mazhab dan merupakan ijma para ulama dan umara sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Taqiyuddin As-Subki rhm adalah sesat dan menyesatkan sebagaimana yang telah disampaikan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2015/09/30/pemahaman-menyesatkan/

    Begitupula Buya Yahya dari lembaga pengembangan da’wah Al-Bahjah menjelaskan bahwa telah bermunculan kelompok orang yang mengaku dirinya salaf namun mereka tidak mewakili salaf karena mereka memunculkan bentuk kesyirikan yang baru seperti beraqidah (beri’tiqod) bahwa Allah berada atau bertempat atau menetap tinggi di langit atau di atas ‘arsy sebagaimana ceramahnya yang diupload pada http://www.youtube.com/watch?v=fS47nbe79wQ

    Suka

  5. Salah dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah dapat pula menjadi liberal atau bahkan atheis sebagaimana tulisan ust Ahmad Zarkasih yang kami arsip pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/08/06/matang-sebelum-waktunya/

    Berikut kutipannya

    ***** awal kutipan *****
    Memang wajar, bahkan sangat wajar sekali jika ada seseorang mempertanyakan adanya perbedaan pandangan. Tapi tidak wajar kalau mereka membawa-bawa label “Kembali pada Al Qur’an dan As Sunnah” kemudian meyalahkan para Imam Mujtahid, seakan-akan para Imam Mujtahid tidak mengerti isi ayat dan kandungan hadits.

    Justru para Imam Mujtahid orang yang paling mengerti madlul ayat dan hadits dibanding kita-kita yang masih berlabel “Muqollid”, bahkan dengan strata taqlid paling rendah.

    Mereka bilang “Saya tidak mau terpaku dengan ajaran orang tua dan guru saya. Saya mau mencari ajaran yang benar”. Hal ini yang membuat kita semakin khawatir. Dengan umur yang masih seperti itu, mereka begitu yakin untuk tidak ber-taqlid (ikuti) kepada yang memang seharusnya ia taqlid.

    Mereka menolak untuk menerima sepenuhnya apa yang ia dapatkan dari rumah, juga dari gurunya tapi mereka tidak punya pegangan untuk bisa berdiri dan menjadi sandaran sendiri.

    Akhirnya, yang dilakukan kembali mencari di jalanan, seperti dengan buka laptop, searching google dan akhirnya bertemu dengan ratusan bahkan ribuan hal yang sejatinya mereka belum siap menerimanya semua. Sampai saat ini kita masih tidak memandang google sebagai sumber pencarian ilmu yang valid dan aman. Mendatangi guru dan bermuwajahah dengan beliau itu yang diajarkan syariah dan jalan yang paling aman.

    Hal yang kita khawatirkan, nantinya mereka besar menjadi muslim yang membenci para imam mazhab dengan seluruh ijtihadnya. Dan kelompok pemuda semacam ini sudah kita temui banyak disekitar kita sekarang.

    Dengan dalih “Kembali kapada al-quran dan sunnah”, mereka dengan pongah berani mecemooh para imam, padahal apa yang dipermasalahkan itu memang benar-benar masalah yang sama sekali tidak berdampak negatif kalau kita berbeda didalamnya.

    Atau lebih parah lagi, ia menjadi orang yang anti dengan syariahnya sendiri. Karena sejak kecil sudah terlalu matang dengan banyak keraguan di sana sini.

    Seperti orang yang belum matang dengan agamanya sendiri tapi kemudian sudah belajar perbandingan agama. Ujung-ujungnya mereka jadi atheism, karena banyak kerancuan yang dia temui.

    Sama juga orang yang belum matang fiqih satu mazhab, kemudian mereka tiba-tiba belajar perbandingan mazhab. Satu mazhab belum beres, kemudian sudah dibanding-bandingkan. Ujung-ujungnya jadi Liberal, yang menganggap bahwa ijtihad itu terbuka untuk siapa saja dan dimana saja. Jadi sebebas-bebasnya lah mereka menafsirkan ini itu.
    ***** akhir kutipan *****

    Suka

  6. Jadi Islam Liberal adalah orang-orang yang menyatakan bahwa pemahaman mereka terhadap Al Qur’an dan As Sunnah menyesuaikan dengan perkembangan zaman mengikuti paham liberal alias pemahaman dengan semangat kebebasan tidak mengikuti metode pemahaman dan istinbath yang telah dibakukan dan dicontohkan oleh Imam Mazhab yang empat sebagaimana contoh informasi dari http://tamamblog-sayang.blogspot.com/2013/10/islam-liberal-dalam-kajian-islam.html

    Sekularisme, Liberalisme dan pluralisme agama lahir dari kumpulan Freemason salah satu gerakan Zionisme yang paling disegani dikalangan Yahudi dengan prinsip “Liberty, Equality, Fraternity”.

    Sekularisme adalah paham yang menjauhkan manusia dari Allah , menghindarkan manusia dalam kehidupannya me”referensi” kepada Allah / Agama

    Liberalisme adalah paham yang “membebaskan” manusia terhadap aturan Allah / Agama dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata

    Pluralisme adalah paham yang membuat manusia “floating” / “ragu” akan Allah / Agama dan sampai ada yang berujung menjadi pengikut atheisme.

    Majelis Ulama Indonesia telah mengerluarkan fatwa No: 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tentang kesesatan paham pluralisme, liberalisme dan sekuarisme agama

    Silahkan unduh (download) fatwa MUI pada http://mui.or.id/wp-content/uploads/2014/05/12.-Pluralisme-Liberalisme-dan-Sekularisme-Agama.pdf

    Dalam fatwa MUI didefinisikan bahwa

    Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.

    Sekularisme agama adalah memisahkan urusan dunia dari agama; agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

    Pluralisme agama adalah suatu paham yang meng ajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.

    Sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda, “ Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”

    Hamad bin Salamah meriwayatkan dari Adi bin Hatim, dia berkata, “Saya bertanya kepada RasulullahShallallahu alaihi wasallam ihwal ‘bukan jalannya orang-orang yang dimurkai’. Beliau bersabda, “Yaitu kaum Yahudi.’ Dan bertanya ihwal ‘bukan pula jalannya orang-orang yang sesat’. “Beliau bersabda, ‘Kaum Nasrani adalah orang-orang yang sesat.’

    Kita sebaiknyan dapat membedakan antara pluralitas (pluralis/keberagaman) agama dengan pluralisme.

    Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.

    Gus Dur sangat menghormati pluralis (keberagaman) namun orang-orang disekeliling Gus Dur, ada yang salah memahaminya dan bahkan menyebut atau menggelari Beliau sebagai bapak Pluralisme.

    Padahal Gus Dur adalah tokoh Islam terdepan dalam memerangi sikap-sikap intoleran terhadap penganut agama lain namun bukan tokoh Islam yang membenarkan agama selain Islam

    Syaiful Arif dalam diskusi dan bedah buku hasil karyanya bertajuk “Humanisme Gus Dur: Pergumulan Islam dan Kemanusiaan” di hotel Akmani, Jl. KH Wahid Hasyim No. 91, Jakarta (12/11/2013) menyampaikan pendapatnya bahwa penyematan “Gus Dur Bapak Pluralisme” dinilai kurang tepat sebagaimana yang diberitakan pada http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,48190-lang,id-c,nasional-t,Penyematan++Gus+Dur+Bapak+Pluralisme++Dinilai+Kurang+Tepat-.phpx

    “Saya tidak sependapat dengan penyematan gelar tersebut. Pasalnya, Gus Dur itu sangat konsen memperjuangkan kemanusiaan. Ketika beliau membela minoritas non-muslim, Tionghoa, Ahmadiyah, dan lain-lain, maka yang dibela adalah manusianya. Bukan institusi Tionghoa dan Ahmadiyahnya”. kata Arif.

    Jadi yang diperjuangkan oleh Gus Dur adalah kemanusiaannya yakni mengakui, menghormati, toleran, merangkul, membela keberagaman manusia dengan keyakinannya (pluralis) bukan memperjuangkan membenarkan agama selain Islam atau memperjuangkan membenarkan pemahaman firqah Ahmadiyah dan firqah-firqah lainnya yang menyempal keluar (kharaja) dari mayoritas kaum muslim (as-sawadul a’zham).

    Dalam fatwa MUI telah pula diingatkan bahwa bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan

    Firman Allah Ta’ala yang artinya, “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah [60]:8 )

    “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Maa-idah [5]:8 )

    Suka

  7. Saya adalah seorang blogger yang selalu mempublikasikan artikel islam, banyak yang berkomentar bahwa jangan percaya artikel pada blog. Padahal yang saya buat sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits shahih, jadi apa bedanya belajar lewat internet dengan ulama, saya hanya menyajikan kepraktisan orang-orang untuk belajar agama. So… saya gak peduli kalau dibilang Santri Google.

    Suka

  8. sebenarnya kekhawatirannya bukan terletak disitu, tapi dikhawatirkan kesalahan sejak dalam hal informasi spt penjelasan Syaikh Ali Jumu’ah ini…

    Suka

  9. Sabar aja bang jonru.. Anjing menggonggong kafila berlalu
    SEO CORP – Belajar SEO | WebMaster | SEM | SERP

    Suka

  10. Google tidak bisa dijadikan tolak ukur, tapi sebagai pencari referensi, terutama dalam hal hadits, banyak kitab yang melampirkan hadits yang dhoif, seperti hadits tentang “doa untuk memudahkan melunaskan hutang” ada beberapa hadits yang tingkat mutawatirnya berbeda, ada yang hasan, shohih dan dhoif, kalaupun ada rujukan tidak bisa hanya dari satu sumber atau website, tapi dari beberapa sumber dan lebih baik lagi kalau diperkuat dengan kitab hadits bukhari , muslim. Seandainya ada yang mendengar suatu hadits baru ditelusuri dulu digoogle siapa perawinya dan tingkatan hadits tersebut, shohih hasan atau dhoif, karena kalau dhoif lebih baik ditinggalkan, karena berbagai hal hingga hadits tersebut digolongkan dhoif. Wassalam

    Suka

  11. Keren. Terima kasih Bang Jonru

    Suka

  12. Sepertinya sejak google jadi bagian life style kita sekarang ada paradigma yg menjadikan google kunci jawaban pertanyaan.
    Padahal hasil google pake algoritma yg menampilkan urutan paling atas hasil yg populer, mirip, dan bahkan sponsor, Bukan jawaban yg tepat.

    Tidak hanya belajar agama, sudah jadi trend para pelajar / mahasiswa yg menulis tugas karya ilmiah menjadikan hasil google (seringnya berupa blog, artikel, atau kutipan yang tidak jelas penulisnya) sebagai referensi karya ilmiahnya. Padahal kelebihan masa sekarang dibanding masa kuliah saya dulu, dengan google kita bisa dapat referensi berupa literatur asli, atau kontak penulis yang mengarang literatur tersebut untuk melakukan korespondensi suatu materi. Jadi ilmu yang didapat jauh lebih valid.

    Sepertinya yang jadi PR kita, di sekolah memang tidak pernah diajarkan bagaimana mencari informasi yang tepat ditengah banjirnya arus informasi karena teknologi informasi. Pola yang dipakai, ilmu yang tepat hanya keluar dari guru yang bisa tampak fisik. Padahal dengan google kita bisa mendapat ilmu dari seorang guru yang ada dibelahan dunia lain.

    Suka

  13. Yg lebih parah klo dia punya label ulama pernah belajar kitab2 kuning tp apa yg keluar dari mulutnya tdk sesuai dgn Alquran dan hadist…nyeleneh…

    Suka

  14. Google adalah navigasi seperti bang jonru bilang. Dan di internet terdapat ribuan artikel islam yang dapat kita baca. Saya sendiri menggunakan beberapa situs sbagai acuan/pijakan dalam belajar agama dan sebisa mungkin sy ikuti pengajian mingguan di dekat rumah. Jika ada bahan yg sy baca dr situs referensi saya meragukan/butuh informasi lebih dalam, saya tanya di majlis pengajian.
    Memang idealnya ada sambungan ilmu dari murid k guru hingga rasulullah, tapi jika ada orang yg kesulitan belajar agama dari guru yang kompeten tentu internet adalah solusinya. Lagian ulama kita terdahulu itu banyak menulis kitab, tujuannya agar kita dapat belajar dari mereka setelah mereka habis waktu d dunis fana ini. Begitupun yang publis artikel dari kitab-kitab ulama terdahulu, pastinya tujuannya baik. Dan untuk kemaslahatan umat di dunia. Jadi ga masalah jika harus mencari referensi dari situs dg gugel. Tujuan gugel adalah terkoneksinya informasi yg ada di dunia dan menyebarkannya.
    Thanks

    Suka

  15. Google banyak menyediakan informasi yang bagus, bisa mencari informasi terbaru kayak ini http://berbagiberita.xyz . sebenarnya mencari informasi di google bagaimana kita memilah sebuah informasi untuk menjadi pedoman dalam pemilihan. terimakasih 🙂

    Suka

  16. Yg bahaya orang ingin paham agama..ingin tau malah browsing dan yg dia baca situs radikal…itu yg bahaya boss….di mana mana belajar kudu ada guru…hormati ilmu ,belajar juga ada adab nya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s