Mengenang @Andips: Sahabat dalam Senyap


andips1

Bahkan foto bareng pun kami belum pernah. Padahal saya dan mas Andips sudah kenalan dan berteman sejak era Yahoo! Messenger. Saat itu, sejumlah teman anggota komunitas Indonesian Muslim Blogger (IMB) berdiskusi online sambil menjalin silaturahmi. Beliau ikut gabung, memperkenalkan diri dengan gayanya yang sangat santun dan rendah hati.

Kami pun akrab sejak saat itu, namun hanya sebatas pertemanan dunia maya.

Awal tahun 2005, saya untuk pertama kalinya menerbitkan buku. Dengan penuh semangat saya datang ke acara Book Fair di Senayan, Jakarta, untuk melihat buku saya dipajang bersama karya-karya para penulis lain.

Saat itulah, untuk pertama kalinya saya bertemu Mas Andhika. Pertemuan yang sangat singkat. Kami berbincang sebentar, dan setelah itu berpisah. Satu hal yang masih saya ingat adalah: Beliau mengucapkan selamat atas terbitnya buku pertama saya.

Setelah itu, kami tak pernah bertemu lagi untuk jangka waktu yang lama. Namun saat blog Multiply lagi rame-ramenya, kami aktif di sana, dan silaturahmi makin terjalin erat, walau hanya lewat dunia maya.

Pertemuan kedua dengannya terjadi beberapa tahun kemudian. Saya lupa tahun berapa. Yang jelas masih di Senayan, dan masih di acara Book Fair. Saat itu pun kami hanya bertemu sebentar, ngobrol sekilas, dan setelah itu berpisah.

Sejujurnya, saya tak terlalu mengenal Mas Andhika secara pribadi. Karena kami memang hanya bertemu dua kali, itu pun hanya sekilas.

Dari tulisan-tulisan di blognya, juga dari status-status Facebooknya, saya tahu bahwa dia dulu melamar kerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT). Lantas beliau menjadi relawan di sana, betah bertahun-tahun bekerja di lembaga sosial tersebut. Saya tidak terlalu paham aktivitas-aktivitasnya. Namun sesekali saya sempat melihat fotonya ketika membantu korban bencana di berbagai kota, baik Indonesia maupun luar negeri.

andips2

Bersahabat dalam senyap. Mungkin itulah istilah yang tepat untuk pertemanan kami. Jarang bertemu, jarang berkomonikasi, namun seperti ada ikatan yang teramat kuat, mengakibatkan rasa keakraban demikian dekat.

Ikatan yang sangat kuat itu bernama ukhuwah. Persaudaraan sesama muslim, sebuah hubungan bathin yang akan sulit dijelaskan oleh mereka yang belum pernah merasakannya.

Mas Andhika meninggal dunia tanggal 16 November 2015, ketika beliau masih menjalankan ibadah puasa. Sebuah kematian yang sangat mendadak, ditabrak oleh truk di jalan TB Simatupang, Jakarta.

Pagi dan siang harinya, beliau masih sempat berkomentar di status Facebook saya. Itulah sebabnya saat mendengar berita wafatnya beliau dari sebuah group WhatsApp, saya KAGET LUAR BIASA. Melongo. Benar-benar tak menduga.

Hati saya bahkan bergetar ketika membaca kesaksian sejumlah teman dekatnya. Beliau rela tidak merayakan lebaran di rumah, demi untuk membantu korban bencana di tempat lain. Para sahabatnya yang menulis di timeline Facebooknya, bercerita bahwah Pak Andhika seorang pekerja keras, baik kepada siapa saja.

Berikut ungkapan hati seorang teman beliau bernama Roel Mustafa, yang membuat saya merasa sangat tersentuh:

Merapi 2010
Mungkin dari sebagian relawan, gw cuma tim penggembira. Maklum tugasnya cuma menghibur anak anak di camp pengungsian. baik itu di daerah Sleman maupun di Klaten..
Selepas tugas kembali ke basecamp.
semua relawan biasa ngobrol santai santai dulu sharing cerita dan lain lain, terlebih para rangers.. pasti letih luar biasa.
Tapi ini yang membuat gw kagum sama lu sob Andips Bapake Aisyah.. semua masih santai untuk rehat sesaat di sela keletihan, lu malah langsung wudhu terus sholat. gw banyak belajar tentang ini dari lu sob.
beberapa tahun sebelumnya kita pernah touring menuju lokasi Baksos bareng wanita satu ini Net Kusuma..yang akhirnya gw mendapat julukan “Slowy” meskipun motor gw selalu paling akhir. Tapi lu selalu dibelakang buat mastikan semua relawan baik baik saja.
Kangen Bro, baru beberapa hari saling bales komen..
selamat jalan sahabat, guru, pemimpin….Bangga pernah kenal dirimu sobat..

Saya sangat terkejut begitu mengetahui kemuliaan akhlak Pak Andhika, sesuatu yang dulu tak pernah saya sadari. Saya justru baru mengetahuinya setelah beliau wafat. Bahkan baru sehari lalu saya mengetahui nama aslinya: Andhika Purbo Swasono.

andips3

Ya, begitulah kesan saya terhadap seorang sahabat bernama Andhika, yang di dunia maya akrab dengan nama Andips. Seorang sahabat dalam senyap. Sahabat yang sebenarnya tidak terlalu akrab dengan saya. Namun ada ikatan ukhuwah yang erat, sehingga kematiannya membuat saya merasa sangat kehilangan.

Kepergiannya meninggalkan nasehat yang sangat banyak. Saya merasa malu begitu menyadari bahwa ibadah Pak Andhika jauh lebih baik dibanding saya. Prestasinya jauh lebih hebat dibanding saya. Namun selama ini, dia tampil apa adanya, tak banyak bicara.

Jika harus menggambarkan bagaimana sosok Pak Andips dalam beberapa kata saja, maka bagi saya dia adalah sosok yang cool, tenang tapi menghanyutkan.

Kematian telah memanggil beliau, karena hidupnya telah sempurna. Kepergiannya yang mendadak membuat saya merenung: Siapkan saya ketika suatu saat nanti, Allah memanggil saya secara tak terduga juga?

NB: Arsip berita kematian Pak Andhika:
– ACT Kehilangan Pejuang Kemanusiaan
– Pejuang Kemanusiaan itu Berpulang ‎Saat Berpuasa

Jakarta, 17 November 2015
Jonru

Iklan

One response to “Mengenang @Andips: Sahabat dalam Senyap

  1. Subhanallah, semoga beliau sudah tenang dan diterima di sisi beliau, amal-amal yang baik selama di dunia bagian terbaik dari tim kami

    Terimakasih Bang Jonru

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s