Jangan “Terkecoh” oleh Istilah WISATA SYARIAH


wisata_syariah_01

Saya pertama kali mendengar istilah “wisata syariah” ketika beberapa waktu lalu membantu Hotel Sofyan untuk menggalang suara di Fan Page Jonru, pada voting “World Halal Travel Award 2015,” yan berpusat di Abu Dhabi-UAE, tanggal 19-21 Oktober 2015.

Alhamdulillah, dari acara tersebut, Indonesia berhasil memenangkan tiga kategori:
(1) World’s Best Family Friendly Hotel, yang dimenangkan Sofyan Hotel Betawi, Jakarta
(2) World’s Best Halal Honeymoon Destination, dimenangkan oleh Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB)
(3) World’s Best Halal Tourism Destination, dimenangkan oleh Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tanggal 9 November 2015, saya dan tim Jonru Media Center (JMC) diundang oleh Hotel Sofyan untuk menghadiri acara syukuran atas ketiga prestasi di atas.

Pada acara itulah, untuk pertama kalinya saya mendengar langsung penjelasan mengenai konsep Wisata Syariah dari pak Sapta Nirwandar, Penasehat Kehormatan Kementrian Pariwisata Indonesia.

Ya, istilah “wisata syariah” ini ternyata telah berhasil membuat banyak orang terkecoh. Baik yang mendukung maupun yang menentang, keduanya terkecoh.

Yang mendukung biasanya adalah mereka yang sangat peduli terhadap penerapan nilai-nilai Islam pada kehidupan sehari-hari. Mereka terkecoh karena beranggapan bahwa konsep wisata syariah ini benar-benar murni dijalankan atas niat untuk menegakkan nilai-nilai Islam. Dan banyak di antara mereka yang mengira bahwa jika sebuah destinasi wisata sudah ditetapkan sebagai objek wisata syariah, maka semua unsur wisata pada tempat tersebut harus dijalankan sesuai prinsip-prinsip syariah.

wisata_syariah_02

Sedangkan yang menentang adalah mereka yang suka paranoid atau takut tanpa alasan yang jelas terhadap istilah “syariah”. Mereka terkecoh karena berprasangka bahwa penerapan konsep syariah akan membuat hotel-hotel tidak bebas lagi menjual minuman keras, para karyawatinya harus berjilbab semua, pasangan yang menginap haruslah yang sudah menikah, dan seterusnya.

* * *

Saat menghadiri acara syukuran di Hotel Sofyan beberapa waktu lalu, saya merasa bersyukur karena mendapat banyak pencerahan seputar konsep wisata syariah.

Menurut Pak Sapta Nirwandar, wisata syariah adalah sebuah extended service. Jika sebuah destinasi ditetapkan sebagai daerah wisata syariah, maka yang diharapkan adalah makin banyak hotel berkonsep syariah, makanan halal, dan sebagainya di tempat tersebut. Dengan demikian, para wisatawan muslim yang berkunjung ke sana akan merasa lebih nyaman dan tenteram.

“Konsep wisata syariah sama sekali tidak bermaksud memaksa semua hotel, restoran, dan sebagainya untuk berkonsep syariah. Ini hanya soal pilihan. Jadi kalau tidak mau pun tidak apa-apa. Namun dari segi bisnis, konsep syariah ini sangat menjanjikan,” ujar Pak Sapta.

Sapta Niswandar

Sapta Niswandar

Ya, konsep wisata syariah memang sangat menjanjikan dari segi bisnis. Pak Riyanto Sofyan (Presiden Direktur Arva Corporation) pada artikel Menakar Kesiapan Industri Pariwisata Syariah menjelaskan:

  •  Data Thomson Reuters & Dinar Standard pada 2012 menyebut, sumbangan pasar pariwisata di dunia berasal dari masyarakat muslim, yakni di kisaran USD137 miliar atau sekitar 12,5% dari total pengeluaran pariwisata dunia.
  • Pada 2010, Singapura kedatangan wisatawan muslim sebanyak 3.260.815 orang. Capaian tersebut 28% dari total wisatawan manca negara yang datang ke Singapura, yaitu sebesar 11.638.663 orang.
  • Pada 2010 Thailand kedatangan wisatawan muslim sebesar 2.476.690 orang. Jumlah tersebut 16% dari total wisatawan mancanegara yang datang ke Thailand, yaitu 15.936.400 orang.

Data di atas menjadi bukti kuat bahwa prospek wisata syariah sangatlah menjanjikan dari segi bisnis. Dalam bahasa awam bisa disebutkan bahwa jika sebuah objek wisata menerapkan konsep wisata syariah, maka akan semakin banyak umat Islam yang tertarik untuk berkunjung ke sana.

Saya percaya bahwa penerapan konsep wisata syariah di Indonesia banyak didasarkan oleh niat untuk menegakkan nilai-nilai Islam di muka bumi. Namun saya juga tidak bisa menampik adanya pertimbangan-pertimbangan bisnis di sana.

Karena lebih berorientasi pada bisnis, maka jangan heran jika konsep wisata syariah justru telah diterapkan oleh sejumlah negara yang pemerintahannya dikelola oleh pemeluk selain Islam. Saat ini, sudah ada beberapa negara yang menerapkan konsep wisata syariah, seperti Malaysia, Tailand, Korea Selatan, dan Jepang. Bahkan Singapore pun mulai serius menerapkan konsep ini, karena mereka sadar bahwa banyaknya wisatawan muslim yang datang ke negara mereka merupakan pangsa pasar yang sangat menjanjikan.

Salah satu arsip berita mengenai penerapan wisata syariah di Taiwan bisa dibaca di sini.

* * *

Karena konsep wisata syariah merupakan extended service, atau sebagai alternatif pilihan, maka sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Konsep ini sama sekali tidak mengharuskan atau memaksa semua hotel, restoran dan sebagainya untuk menerapkan konsep syariah pada bisnis mereka.

wisata_syariah_04

Jika masih ingin bertahan dengan konsep wisata konvensional, justru belum ada aturan hukum di Indonesia yang bisa melarangnya. Sebab Indonesia bukan negara Islam. Aturan hukum yang berlaku masih buatan manusia.

Karena itu, bagi Anda yang menentang konsep wisata syariah, menurut saya tak usahlah paranoid begitu. Sebab sama sekali tak ada paksaan, tak ada keharusan. Jika Anda tidak suka, ya abaikan saja. Tak perlu diterapkan.

NB: Saya sempat membaca dua berita mengenai Gubernur Bali dan Ketua PHRI Bali yang tidak setuju dan menentang keras penerapan wisata syariah di Bali. Seperti yang saya sebutkan di atas, sebenarnya sikap yang mereka tunjukkan ini sama sekali tidak perlu dilakukan.

Take it if you like, or leave it if you dislike. Just that simple.

(Padahal jika makin banyak makanan halal, hotel syariah dan sebagainya di Bali, saya yakin jumlah wisatawan muslim yang berkunjung sana akan semakin banyak. Artinya, ini justru sangat menguntungkan bagi Pemda Bali. Karena itu, penolakan mereka sebenarnya hanya berdasarkan pertimbangan paranoid dan ketakutan semu belaka).

Jakarta, 25 November 2015
Jonru
Follow me:
– Twitter @jonru
– Instagram @jonruginting

Iklan

37 responses to “Jangan “Terkecoh” oleh Istilah WISATA SYARIAH

  1. yg konkrit lgsg ke tujuan, jd wisata syariah itu apa?? artikel anda tidak jelas bung jonru, muter2.. arti dan manfaat itu berbeda,

    Suka

    • Intinya jika di suatu daerah diterapkan wisata syariah, artinya umat islam akan gampang menemukan makanal halal, masjid untuk shalat, dst di tempat tersebut. Adapun hotel, restoran dst yang masih ingin menerapkan konsep konvensional, sama sekali tidak dilarang. Itu intinya. Jadi tak ada yang perlu dipermasalahkan, bukan?

      Suka

      • tidak ada makanan halal atau tidak halal, hanya ada makanan 4 sehat 5 sempurna dan tidak menyebabkan kecanduan atau kebodohan iman.

        Suka

    • Udah baca panjang x lebar, masih ngga faham.. Coba dibaca ulang artikelnya bang jonru mba..

      Suka

  2. bali ga mata duitan 🙂

    Suka

  3. Jelas kami tdk menginginkannya..bukannya kami paranoid..tetapi memang kami sudah punya model pariwisata yang khas antara pariwisata dan kultur budaya kami..kunjungan turis mancanegara ke Bali adalah mencari pariwisata model terdebut. Sy pinjam istilah bang Jonru..jika kami tdk menginginkannya kenapa dipaksakan..buat saja model wisata syariah itu di tempat lain dan kita buktikan ke depan jenis pariwisata mana yang lebih unggul. Terimakasih.

    Suka

    • Tak ada satu pun kalimat saya yang menyebutkan bahwa di bali harus ada wisata syariah. Saya menulis artikel ini, dalam rangka menjelaskan kepada para penentang wisata syariah, agar mereka tidak salah persepsi mengenai pengertian wisata syariah. Itu saja, tak lebih dan tak kurang.

      Walau bali menentang wisata syariah, tentu tidak masalah. Sebab ini sebenarnya hanya soal bisnis. Jika permintaan akan adanya makanan halal dst di bali meningkat pesat, pasti restoran2 di bali (baik yang pemiliknya muslim atau bukan) akan ramai2 menyediakan makanan halal. Dan jika kondisi seperti itu sudah tercapai, maka sebenarnya yang namanya wisata halal sudah terwujud dari segi konsep, walau label wisata halal-nya tidak ada.

      Yang diinginkan oleh umat Islam adalah konsep atau implementasinya. Adapun label, itu tidaklah terlalu penting.

      Suka

      • kalau wisatawan muslim pengen gampang dapat makanan yg halal ya gak usah ke bali,itu aja kok repot,lagian masih banyak wisatawan dr negara lain ke bali nyari kearifan lokal bukan makan2

        Disukai oleh 1 orang

    • kami maksudnya.agan dan beberapa orang ya wkwk

      Suka

  4. Ping-balik: wisata syariah di tolak di bali | DiEnjoyBisnis.Com

  5. Silakan saja buat wisata syariah di NTB dan Jakarta, bahkan di Serambi Mekah bila perlu…tapi jangan di Bali….sebaiknya kawan muslim tidk perlu berwisata ke Bali.. daripada nanti susah nyari yang halal di Bali. Life is so simple dude 🙂

    Suka

    • Sepertinya Anda belum sadar, bahwa jika wisata syariah (atau sebut saja wisata halal agar tidak salah persepsi) di bali justru bisa menambah pendapatan pemda bali dari pariwisata. Namun jika anda berkata “tidak perlu berwisata ke bali”, itu ucapan yang terkesan seperti ngajak bermusuhan, padahal niat kita adalah untuk saling memahami agar tidak terjadi permusuhan dst.

      Suka

  6. Kita tidak perlu paranoid dengan istilah wisata syariah..karena tujuannya lebih ke bisnis jadi mari lebih melihat kepeluang wisatawan Timur Tengah dan wisatawan muslim.:)
    thanks bang Jonru sharing pengetahuannya.

    Suka

  7. Izin nyimak ya temen2.

    Suka

  8. setelah membaca artikel bang Jonru saya mulai paham tentang apa itu wisata syariah yang dimaksud, tidak lain hanya untuk memenuhi kebutuhan & kenyaman konsumen, karena di Bali juga banyak wisatawan muslim yang berkunjung ke sana.. sayangnya ada beberapa komenan diatas yg masih gagal paham, mungkin karena masih paranoid ataupun ketakutan yg berlebihan… Ingat “i am muslim i am not terroris”

    Suka

  9. Banyak warga bali yang melabelkan islam dengan picik otaknya………….padhal faedah yang didapat itu sangat bermanfaat untuk semuanya………pola pikir mereka sangat mengadopsi budaya barat yang pro kebebasan……mungkin akut bila terjadi hal yang tidak diinginkan manakala menganggap wisata syariah hanya merugikan di kalangan mereka sendiri……………..

    Suka

  10. dikira “mereka” label halal sama dengan bom,.!.hahahaha…mesti tsunami yang datang kyanya,,,biar pd nyadar…ckckckckckck……..

    Suka

  11. i agree with Mr. jonru.
    kalau ada yg mengatakan “kalau begitu tidak usah saja ke Bali”
    bagi umat islam mungkin tidak ada masalah. karena tempat wisata itu banyak nggak hanya bali doang.
    plus nya adalah bila umat islam tidak ada yg ke Bali, jadi tidak ada lagi tuduhan terhadap umat islam yg mereka di Bali menuduh umat islam datang kembali membawa virus HIV untuk memusnahkan umat Hindu Bali.
    padahal faktanya yg banyak mendatangi Bali adalah turis asing.

    why always us?

    Suka

  12. menurut ane padahal pointnya itu cuma 2, kalau mau ya monggo, kalau ga mau ya monggo, gitu aja kan ya, jadi ga perlu sebut daerah ini dan itu,,

    Suka

  13. Saya membaca beberapa hari terakhir ribut mengenai wisata syariah,sebenarnya kalau menurut pengalaman saya bahwa pengembangan sebuah destinasi wisata bisa sukses karena beberapa hal yaitu alam,budaya ,keamanan dan keramahan masyarakatnya.Hal hal tersebut merupakan syarat mutlak bagi berkembangnya suatu daerah wisata secara berkelanjutan dan Bali saya rasa sudah mempunyai pondasi yang sangat kuat tentang hal hal tersebut di atas sehingga Bali menjadi yang seperti sekarang yang kita bisa nikmati.Terlepas daripada apapun bahasanya,Wisata syariah tidak lepas atau meninggalkan dari konsep Agama dan tujuan serta agenda tersembunyi dari slogan yang di utarakan. Menurut saya adalah sangat tidak bijak jika menerapkan konsep agama tertentu di terapkan di mana mayoritas masyarakatnya adalah beragama Hindu. Saya pernah menginap di hotel Alia Jakarta ,salah satu hotel syariah,yang mana semua proses check in selama menginap ada hal hal yang tidak boleh di lakukan seperti tidak boleh menginap kalau bukan dengan istrinya,pelayanan ala kadarnya dan semua pelayanan menggunakan konsep Agama sehingga kesannya tamu di paksa harus mengikuti aturan tersebut walaupun mempunyai Agama yang berbeda. Gimana seandainya di mayoritas penduduknya Islam, pemilik hotel yang beragama bukan Islam menerapkan konsep wisata sesuai dengan Agamanya sendiri sendiri ???
    Yang harus di ingat bahwa syarat berkembangnya suatu daerah menjadi daerah tujuan wisata terkenal adalah Keramah tamahan masyarakatnya dan keunikan budaya lokal yang ada ? tidak lupa adalah Keamanan dan Kenyamanan daripada daerah tersebut .
    INGAT DALAM WISATA KITA TIDAK MEMPROMOSIKAN AGAMA TETAPI MEMPROMOSIKAN BUDAYA LOKAL/LOKAL WISDOM DAN KEINDAHAN ALAM SUATU DAERAH

    Suka

  14. Saya setuju dengan konsep ini, bukan karna saya juga muslim, tapi konsep ini kan universal, boleh mau boleh enggak, dan kalau emang mau memasukkan segi kultural budaya, ya itu bisa. Kenapa harus ditentang? Kan itu juga jadi + daya tarik untuk daerah tsb, karna setau saya orang luar tau bali tapi gak tau indonesia. Dan kaitan ini gak logis dimasukkan dengan suatu alibi agama, atau mempromosikan agama. Toh disini juga buat melihara semua. Dan kalau emang hotelnya yang menganbil konsep tsb mengharuskan dengan pasangan sah, kan bagus buat menekan angka prostitusi dan penyebaran hiv..
    Dari pihak sana maupun sini, tidak ada yang salah, hanya perlu saling mengerti. 🙂

    Suka

  15. tanpa wisata syariah pun kami umat Islam hanya akan memilih hotel, restoran rumah makan yang bersertifikat halal atau jelas – jelas rumah makan muslim. INI PILIHAN KAMI. Meskipun mayoritas warga adalah non muslim, kami sholat di masjid, musholla, hotel. Khususnya saat menjalani wisata sebagai musafir ada ketentuannya sendiri……. sooo untuk tamu – tamu yang muslim ( dari manca negara ) apakah harus dihalang – halangi dari kehalalan yang mereka butuhkan ????? Bagaimana para pelaku wisata di Bali memperlakukan mereka ? atau PASANG SPANDUK YANG BUESAAAR DI BANDARA NGURAH RAI ” NOTHING IS IN BALI HALAL, MESSAGE FOR ALL MUSLIM, BECAUSE BALI IS TOUSAND TEMPLE ISLAND.”

    Suka

  16. sampai sekarang ga mau ke bali, karna susahnya cari makanan halal disana
    ibu saya ke bali, sampai bawa rendang sendiri dr rumah..ga mau makan masakan padang disana 😀 hahaha
    *peace*

    ya kalo wissatawan (khususnya wisatawan muslim) mau merasa aman dengan makanan yg halal, ga salah dong yaahh 😉

    Suka

  17. Jangan sombong bali !!!, jumlah wisatawan kalian cuma 3 juta orang dr luar negri, tapi ada 10 juta orang lebih wisata dari dalam negri, jadi terbanyak adalah sumbangan dari mayoritas muslim yg berlibur ke bali.
    Bandingkan dengan jumlah wisatawan mancanegara yg datang ke malaysia , bisa 20 jt orang pertahun , Bali belum ada apa2 nya… Bung !!! jangan sombong

    ini gua kasih tau Lo orang2 bali,
    Litenary kira2 wisata syariah itu seperti ini

    day 1.
    arrived , makan direstoran halal (padang etc) dan sholat zhuhur ( restoran ada fasilitas tempat sholat)
    mengunjungi tempat wisata, ubud, tegalalang, lake bratan, sholat ashar di mesjid dekat danau bratan, makan halal dengan view gunung batur, balik ke hotel yg sebelumnya sholat magrib di mesjid dekat bandara ,
    note : menginap di hotel dengan menu brakfast halal
    day 2 …….

    ada yg salah dengan wisata syariah seperti di atas ??? Lo pikir pakai otak, jangan pakai emosi..
    menyedihkan sekali …
    Bali parno dengan istilah wisata syariah,
    tapi bangga dengan istilah wisata sex tour with gigolo in kuta, orgy sex at luxury mansion in ubud bali, gay paradise a week in petitnget, lol lol lol

    Suka

    • Kamu makan sendiri dah litenarynya, kamu bandingkan bali dg malasya dan tailand apa gak salah to, dari komenmu kamu adalah orang yg membenci bali, bagaimana orang bali mau menerima ide dari kamu?, asal tau saja, orang bali lebih dulu membuat litenary sejak kamu belum lahir, dan jauh lebih baik bali membuat litenary sendiri, dari pada kamu soksokan memaksakan kehendak, tapi kamu sendiri membenci bali

      Suka

  18. Persis seperti kata Cinta Indonesia, wisatawan asing ke Borobudur, di kampung halaman saya juga cuman sak uprit. Memang ada hotel mewah bertarif fantanstis, tapi dibandingkan dengan pendapatan dari wisnus, yg dari wisman belum apa2nya. Kalau sy tidak salah, wisata syariah itu hanya soal akomodasi, walau akomodasi itu gak cuma “hanya”. Muslim butuh masjid, musholla untu ibadah harian (bukan utk dakwah), butuh makan daging non babi, atau daging ayam, sapi, kambing yg penyembelihannya dengan menyebut nama Tuhan. Hewan sembelihan sohib Nasrani, yg menyebut Tuhan Allah juga OK, bahkan sembelihan sahabat Hindhu juga gak papa asal menyebut nama Tuhan Pencipta Alam Semesta, apapun istilahnya, juga ok. jadi kaluk you itu orang bisnis, maka sediakanlah kebutuhan tamu2 anda. Tamunya butuh duren, sediakan duren. Tamunya butuh minum non alkohol, sediakan saja teh, kopi atau jus. Tamunya nggak mau makan ham, pork, jangan sediakan bahan makanan itu.

    Suka

  19. Di Lombok lagi gencar2nya bang, apalagi setelah Lombok menang World Halal Tourist Destination. Yaaa, kita dukung aja…

    Suka

  20. Coba ganti wisata “syariah” dengan wisata yang diberi label “halal”. Tujuannya satu, hanya untuk memastikan bahwa tempat tersbut ( hotel, rumah makan, tempat wisata) menyediakan makanan/fasilitas yang dipastikan “halal”.
    Warung2 di Bali dikasi label “halal” aja g ada yang protes, jd yang muslim/non muslim bisa milih.
    Mereka yang di Bali ini pasti ada kekhawatiran dgn istilah “syariah”.
    Bagi mereka pulau bali adalah milik mereka, bahkan ada Perda khusus yang hanya dikhususkan utk Bali dan tidak ada di provinsi lain manapun.
    Kearifan adat lokal bagi mereka adalah segalanya, jadi bila mereka merasa ada yang mulai mengusik “kearifan adat lokal” tersebut, mereka tak segan untuk menyatukan kekuatan dan menentang rencana pemerintah yang dianggap “mengancam”.
    Tolong di kaji ulang istilah “syariah”, apakah tidak lebih baik apabila cukup diberi label “Halal” entah itu untuk rumah makan, wisata, atau hotel dll.
    Jika ada yang beranggapan, “lho, berarti yang gak dikasi label halal, berarti haram donk?”.
    Yang bertanya sperti itu suruh balik ke bangku sekolah, dan belajar pendidikan agama juga pendidikan kewarganegaraan.
    Agar mreka yang bertanya sperti yang saya sebutkan tadi paham betul arti kata Toleransi antar umat beragama. Saya muslim, dan saya sangat menghargai perbedaan. Apabila ada salah kata saya mohon maaf, ini hanya saran atau apalah. Kurang lebihnya saya mencari jalan tengah, dan tidak menyudutkan pihak manapun. Wallahu a’lam

    Suka

    • Nah, yang ini baru bagus, kalau sebagian besar orang kita punya pemikiran seperti anda, orang balipun akan jauh lebih segan, kami di bali hidup berdampingan jauh sebelumnya sampai sekarang.

      Suka

  21. bagus !!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s