Rajin Ibadah, Tapi Kok…


kesalehan sosial
Beberapa kali, saya bertemu DUA orang yang sangat kontradiktif karakternya:

Si A sangat rajin ibadah, shalat wajib selalu tepat waktu, ibadah-ibadah sunnah pun sangat rajin. Tilawahnya 2 juz perhari. Shalat dhuha tak pernah absen. Namun dalam bergaul, banyak orang yang tidak menyukainya. Dia mementingkan diri sendiri, tidak memiliki empati, tidak suka menolong, dan seterusnya.
Sedangkan si B, ibadahnya biasa saja. Bahkan kadang-kadang lalai shalat wajib. Namun dalam hal bergaul, dia asyik banget orangnya. Empatinya luar biasa, peduli pada sesama, ramah, bersahabat, pintar menyenangkan orang, dan seterusnya.

Kesalehan sosial, itulah yang dimiliki oleh si B, namun belum dimiliki oleh A. Si A hanya saleh ritual. Dia sangat bagus dalam urusan Hablum Minallah (hubungan dengan Allah), namun sangat buruk dalam urusan Hablum Minannas (hubungan dengan sesama manusia).

Islam mengajarkan kita agar hidup seimbang, termasuk seimbang dalam urusan dengan Allah dan sesama manusia.

Saya membayangkan seandainya si A dan B di-merger, dipersatukan menjadi satu orang saja, maka akan terlahir manusia baru yang baik dari segi Hablum Minallah maupun Hablum Minannas.

Namun karena itu tak mungkin dilakukan, maka mari BAYANGKAN saja:

Jika si A memperbaiki kualitas hubungannya dengan sesama manusia, maka saya yakin ibadah-ibadah ritualnya akan semakin dicintai oleh Allah. Sebab Islam tidak hanya menyuruh kita untuk rajin beribadah ritual. Islam juga memerintahkan kita untuk berbuat baik pada sesama manusia.

Dan jika si B memperbaiki ibadah ritualnya, maka saya yakin kualitas kesalehan sosialnya akan semakin luar biasa. Sebab saya percaya bahwa orang yang semakin mendekatkan diri kepada Allah, maka rasa cintanya kepada sesama manusia pun semakin besar.

Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi dan intropeksi bagi kita semua, termasuk saya.

Jakarta, 25 Februari 2016

JONRU
– Follow my Twitter & Instagram >> @jonru
– Channel Resmi Jonru di Telegram: @infojonru

Iklan

6 responses to “Rajin Ibadah, Tapi Kok…

  1. Mantap om
    Semoga si a belajar bergaul dari si b, dan si b belajar ibadah dari si a.

    Suka

  2. memang sangat benar semua harus imbang agar kita selamat dunia dan akhirat itu alasannya diciptakan manusia agar bermanfaat bagi orang lain.

    terima kasih informasinya.

    Salam

    Suka

  3. Pemerhati Sosial

    Dilingkungan saya banyak sekali orang seperti Si A, namun rasa tolong menolong sesama agak kurang, saya beri contoh si A akrab dengan si B, suatu ketika si B anaknya sakit, datanglah orang yang meminta tolong bantuan seikhlasnya kepada satu orang kantor, namun dengan sangat mengejutkan si A malah sama sekali tidak menolong dengan alasan gak bawa dompet….
    Astaghfirullahadzim, ternyata keakraban itu hanya tampak di depan

    Suka

  4. Sholat itu bisa mencegah dari perbuatan makruf dan mungkar.
    Jika seseorang yg rajin ibadah, tapi akhlaknya buruk dan masih melakukan kemungkaran,di mata manusia dia sholat, tapi sholatnya masih belum berbekas dihatinya, tidak khusyuk.

    Dan jika orang yg tidak beribadah, lalu dia baik kepada orang lain,
    Sebenarnya dia juga sudah zalim kepada dirinya sendiri.
    Karena sedang mengarahkan dirinya ke neraka.
    Bukankah pada hari akhir nanti, amal yang paling pertama dihisab adalah sholat? Jika bagus sholatnya, maka bagus lah amalannya yg lain. Tapi kalo buruk sholatnya, maka buruklah amalan yg lain.

    Menjadi pribadi yg baik dalam dua aspek, habluminallah dan habluminannas itu bukan tidak mungkin. Kita tidak usah jauh2 mencontoh manusia terbaik di dunia ini yaitu Rasulullah SAW, karena pasti kita berkata, “gak mungkinlah kan beliau adalah nabi”.
    Tapi cobalah liat para sahabtnya.
    Bukankah utsman bin Affan ra, baik amal ibadahnya, dan baik hubungan sosialnya? Bahkan rekeningnya hingga saat ini mengalir terus dan diwakafkan untuk para yatim dan fakir miskin?
    Dan masih banyak lagi sahabatnya yg bisa kita contoh.

    Sekarang tinggal ikhtiar dan istiqomahnya kita saja. Sulit itu pasti.
    Karena jalan menuju surga itu gk ada yg mudah. Semua sulit. Tapi kalau kita niat pasti akan terlaksana. Dan untuk menjadi seorang muslim yang sejati itu tidak instan, melalui proses dan tahapan. Teruslah berubah untuk jadi baik.

    Suka

  5. Saya mirip si A tapi perlu sodara ketahui, mementingkan diri sendiri karena kurang bergaul dng masyarakat tau kenapa ? karena hanya ngegosip , bicara tidak karuan yang tidak bermanfaat (padahal sesama muslim) ketika saya sampaikan nasehat dari al quran dan hadist ga suka dibilang aliran keras dsb.
    saya tidak empati dengan orang2 gemar ghibah, berjudi, mabuk giliran anaknya sakit nangis2 minta tolong, saat senang mabuk lagi judi lagi.
    saya tidak suka menolong ya ..karena saya sendiri kurang mampu, yang minta tolong sebenarnya jauh lebih mampu dari saya anaknya sakit minta bantuan/pinjaman orang dan temen. Padahal tabungannya di bank jutaan ( alasannya untuk membeli rumah, mobil, dana sekolah anak2nya) tapi anaknya sakit ga mau ambil tabunganya.
    itu fakta dimasyarakat kita kalo sodara mau tau…

    ingat perbuatan kita akan diminta pertanggunganjawaban di akherat, menyebarkan fitnah dan disebarkan lagi. jauh berlipat2 dosanya..hati2
    sadarlah sodaraku…jika tidak tau sebenarnya lebih baik diam.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s