Pembubaran HTI, Haruskah Kita Bersyukur?


pembubaran hti

Ketika mendengar info tentang pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), saya sedang dalam perjalanan darat (konvoi naik mobil) dari Pattani Thailand ke Bangi (Selangor) Malaysia.

Untuk urusan apa? Bagi teman-teman yang rajin memantau akun Instagram saya – @jonruginting – tentu paham bahwa saya menghadiri acara Festival Wakaf sekaligus soft launching website MauBantu.com di Pattani, Thailand Selatan, tanggal 6-7 Mei 2017 lalu.

Selama di luar negeri, saya jarang online karena keterbatasan akses internet. Karena itu, saya pun kurang update terhadap info-info terbaru di dalam negeri.

Dan saat menulis artikel ini, saya sedang berada di sebuah hotel di daerah Bangi, sekitar 1 jam perjalanan dari Kuala Lumpur.

Seperti biasa, banyak sekali orang yang meminta saya membahas tema-tema aktual seperti ini. Dan ketika saya belum membahasnya, mereka pun membully saya dengan berbagai macam tuduhan. Mereka tentu tidak paham bagaimana situasi yang saya hadapi selama di luar negeri.

Dan saat ini, alhamdulillah saya punya cukup waktu untuk menulis dan menyimak update info-info terbaru. Karena itu, saya coba membahas masalah Pembubaran HTI ini.

SATU:

Perlu dipahami bahwa saya BUKAN kader HTI. Secara pribadi, saya justru sering sebel dan jengkel terhadap perilaku teman-teman kader HTI. Mereka sering menuduh kita memuja thogut bernama demokrasi. Mereka sering membully, menuduh dan menghujat golongan Islam lainnya.

Jadi kalau memperturutkan rasa jengkel dan sebel seperti itu, sejujurnya saya merasa bersyukur atas pembubaran HTI ini.

Namun Teman Sekalian, ini bukan soal pelampiasan rasa jengkel, apalagi nafsu untuk balas dendam.

Pada situasi seperti ini, saya merasa sangat bersyukur, karena melihat teman-teman dari harokah lain justru menunjukkan simpati yang sangat luar biasa terhadap HTI.

Saya melihat bagaimana teman-teman PKS mengutuk kerasa pembubaran tersebut, mereka menunjukkan pembelaan dan simpati yang luar biasa terhadap HTI, padahal PKS termasuk partai yang selama ini paling sering diserang dan dihujat oleh para kader HTI.

DUA:

Semoga pembubaran ini membuat teman-teman HTI menjadi sadar, bahwa selama ini Anda mengambil tindakan yang keliru. Harokah dan golongan yang selama ini Anda hujat dan bully, ternyata justru membela dan menunjukkan simpati yang luar biasa di saat Anda sedang terpuruk dan didzalimi oleh pemerintah.

Anda boleh saja menyebut demokrasi itu thogut. Anda boleh saja memutuskan untuk golput saat pemilu. Itu hak Anda. Namun seharusnya Anda juga belajar banyak tentang cara menjalin ukhuwah Islamiyah dengan ormas-ormas Islam lainya.

pembubaran HTI

TIGA:

Walau saya bukan kader HTI, bahkan sering jengkel terhadap perlakuan para kader HTI, namun SECARA OBJEKTIF saya harus menyampaikan bahwa pembubaran HTI ini CACAT HUKUM.

Sebuah ormas tidak bisa dibubarkan hanya melalui pidato oleh seorang pejabat pemerintah. Pembubaran sebuah ormas hanya sah jika dilakukan melalui keputusan pengadilan. Info selengkapnya bisa dibaca di sini.

EMPAT:

Sehubungan dengan poin TIGA di atas, sangat jelas bahwa pembubaran HTI merupakan PRESEDEN SANGAT BURUK terhadap eksistensi ormas-ormas Islam di Indonesia.

Bayangkan saja: Sebuah ormas bisa dengan sangat mudah dibubarkan lewat pidato seorang menteri. Hari ini HTI yang menjadi korban. Besok mungkin ormas-ormas lain yang dapat giliran.

Haruskah kita diam saja menghadapi situasi seperti ini?

LIMA:

Dengan pemikiran seperti poin EMPAT di atas, maka saya MENGUTUK KERAS PEMBUBARAN HTI, karena pembubaran ini cacat hukum, menyalahi aturan hukum yang ada. Dan di sisi lain, pembubaran ini menjadi bukti yang semakin kuat bahwa REZIM INI SANGAT ANTI ISLAM.

Ormas Islam dibubarkan dengan cara yang sangat mudah. Sedangkan ormas-ormas lain yang jelas-jelas makar, menimbulkan keributan dan sebagainya, justru dibiarkan begitu saja.

Bahkan kaum pemberontak di Papua, yang ingin mendirikan negara sendiri, justru dibiarkan saja oleh Pemerintah. Mereka pura-pura tidak tahu.

Semakin jelas terlihat, bahwa rezim ini sangat anti Islam. Yang dipelihara justru ormas-ormas yang mengaku Islam, namun faktanya mereka adalah kaum munafik yang bersikap lembut serta membela musuh-musuh Islam, namun sangat memusuhi dan sangat keras sikapnya terhadap sesama muslim sendiri.

Bangi, Selangor, Malaysia, 9 Mei 2017
Jonru Ginting
______________________________
NB: Yuk Join dengan Channel Resmi JONRU di Telegram. Cari username @JonruGinting atau klik saja https://t.me/jonruginting

Iklan

4 responses to “Pembubaran HTI, Haruskah Kita Bersyukur?

  1. yang jadi pertanyaan, kenapa mereka HTI Sangat membenci Arab Saudi dan Turki ya?

    Suka

  2. Bang Jonru, negara-negara mayoritas muslim seperi Turki, Saudi Arabia mereka menolak HTI. Boleh di jelaskan bang?

    Suka

  3. Ping-balik: Pembubaran HTI, Haruskah Kita Bersyukur? – ohmygod

  4. efriliya ningsih

    sebenarnya tragedi pembubaran HTI ini juga membuat kita bingung, antara harus membela atau malah bersyukur. terlalu keras kepala dengan sistem khilafah dan mengharamkan harokah lain yang andil dalam sistem demokrasi. kalau misalnya para kader tahu bagaimana proses yang harus dilewati agar negara khilafah berdiri, pastilah mereka tidak sedemikian gegabah mengatakan bahwa kita yang berasal dari harokah lain termasuk dalam kumpulan-kumpulan orang yang terjebak dalam sistem kufur. tapi jika mengingat bagaimana cara HTI ini dibubarkan, ah, entahlah..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s